A.
Pengertian Keanekaragaman Hayati
Pengertian
Keanekaragaman Hayati adalah keberagaman makhluk hidup dibumi (hewan, tumbuhan,
mikroorganisme) beserta keanekaragaman jenis, genetik dan ekosistem yang
dimilikinya.
Dalam
pengertian lain, keanekaragaman hayati adalah keragaman jenis-jenis makhluk
hidup yang menyusun komposisi dari suatu ekosistem atau juga keberagaman
organisme yang menunjukan keseluruhan variasi gen, jenis dan ekosistem pada
suatu daerah.
Istilah
Keanekaragaman hayati atau Biological diversity (biodiversity) awalnya
digunakan Lovejoy pada 1980 untuk menyebutkan “kekayaan jumlah spesies”. Namun
istilah ini ditolak oleh para ahli lain karena maknanya terlalu sempit.
Keanekaragaman
hayati tidak terbatas pada jumlah total makhluk hidup yang ada. Melainkan juga
pada gen, jenis, ekosistem dan juga proses-proses hubungan timbal balik antara
makhluk hidup dan lingkungannya.
Pengertian Keanekaragaman Hayati Menurut Para
Ahli
Menurut
DeLong (1996) Keanekaragaman Hayati adalah ciri suatu area yang menyangkut
keragaman di dalam dan diantara organisme hidup, kumpulan organisme, komunitas
biodtik dan proses biotik yang masih alamiah ataupun sudah diubah manusia.
Menurut Sudarsono (2005), Keanekaragaman hayati adalah kondisi dimana sumber daya hayati tersedia dengan baik dan beragam di lingkungan. Keberagaman ini terwujud dalam plasma nutfah, ekosistem, dan keanekaragaman genetik.
B,
Tingkat Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman
hayati dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yakni tingkat gen atau genetika,
tingkat spesies atau jenis dan tingkat ekosistem
1.
Keanekaragaman Tingkat Gen
Keanekaragaman
hayati tingkat gen adalah keberagaman makhluk hidup dalam 1 spesies yang
dipengaruhi oleh faktor genetik yang diturunkan oleh kedua induk/orang tua
makhluk hidup yang melakukan perkawinan.
Gen
sendiri adalah perangkat pembawa sifat, dalam setiap makhluk terdapat perangkat
dasar penyusun gen sama, Namun susunannya berbeda. Perbedaan susunan inilah
yang mempengaruhi keturunan hasil dari perkawinan kedua makhluk.
Contohnya
misalnya Hewan Kucing. Meskipun dalam 1 spesies sama, tapi kucing memiliki
banyak jenis seperti Kucing angora, kucing persia ataupun kucing kampung.
Setiap kucing tersebut memiliki warna, sifat dan bentuk-bentuk tubuh berbeda.
Begitupun
buah Mangga, walaupun sama-sama bernama mangga, tapi mangga memiliki beberapa
jenis, misalnya mangga madu, mangga simanalagi, mangga harum manis, mangga
golek, kuini, cengkir dan sebagainya. Setiap jenis juga memiliki bentuk dan
rasa yang berbeda.
Keanekaragaman
tingkat gen dapat terjadi secara alami ataupun buatan. Keanekaragaman yang
terjadi secara alami disebabkan adaptasi yang dilakukan setiap individu dengan
lingkungan yang mempengaruhi sifat-sifat yang tampak (fenotik) walaupun tetap
diatur oleh genetiknya (genotif).
Sedangkan
keanekaegaman buatan, terjadi karena proses perkawinan silang atau hibridasi,
yang biasanya dilakukan pada beragam jenis tanaman sehingga memunculkan
varietas baru.
2.
Keanekaragaman Tingkat Spesies atau Jenis
Setelah
membahas keragaman gen, maka tingkatan keanekaragaman hayati selanjutnya adalah
tingkat spesies. Jangan batasi pemahaman Anda dalam mengartikan spesies hanya
pada konteks binatang dan tumbuhan saja. Bakteri pun juga masuk dalam tingkat
keragaman hayati ini.
Secara
umum, definisi spesies adalah klasifikasi yang terdapat dalam ilmu biologi yang
umumnya mengarah pada kelompok organisme yang menunjukkan serangkaian persamaan
fisik. Selain itu, individu pada satu klasifikasi spesies yang sama juga mampu
untuk bertukar sifat gen.
Pada
konteks keanekaragaman hayati tingkat spesies, Anda dapat melihat contohnya
pada kucing, macan, dan harimau. Secara fisik, tentu ketiganya memiliki
perbedaan yang cukup signifikan. Namun sesungguhnya mereka masih tergolong dalam
famili yang sama.
3.
Keanekaragaman Tingkat Ekosistem
Tak
ada satupun makhluk hidup yang mampu bertahan tanpa adanya interaksi yang
dinamis dengan komponen ekosistem lainnya, baik itu yang termasuk dalam
komponen abiotik maupun biotik.
Contoh
paling sederhana adalah, manusia tak bisa hidup tanpa kehadiran binatang dan
tumbuhan yang digunakan sebagai sumber makanan yang utama. Namun tak hanya itu
saja, manusia juga membutuhkan cahaya, udara, dan air untuk mempertahankan
kualitas hidup.
Sementara
itu, Anda tentu mengetahui bahwa komponen biotik dan abiotik yang ada di bumi
ini sangat bayak jumlahnya. Masing-masing juga memiliki ciri khasnya yang dapat
memberi perbedaan signifikan pada ekosistem tempat di mana komponen tersebut
berada.
Ada beberapa jenis ekosistem yang perlu Anda
ketahui:
A.
Ekosistem Hutan Hujan Tropis
Sebagai
orang yang hidup di negara tropis seperti Indonesia, rasanya sudah tak asing
lagi mendengar istilah hutan hujan tropis. Namun apa yang Anda ketahui dengan
ekosistem hutan hujan tropis?
Ekosistem
ini berada di area dengan iklim tropis. Umumnya, area tropis memang memiliki
keanekaragaman hayati yang jauh lebih beragam dibandingkan dengan area lainnya.
Beberapa
ciri yang khas dari ekosistem hutan hujam tropis adalah tanahnya yang relatif
subur, curah hujannya tinggi (antara 1800 hingga 2000 mm per tahun), serta
terdapat lapisan pohon yang dibentuk akibat adanya vegetasi pohon yang sangat
rapat.
Tak
kurang dari 2.500 spesies flora dapat ditemukan di tempat ini, meliputi semak
kecil, pohon, serta tanaman merambat. Contoh yang paling banyak dijumpai adalah
pinus, jati, anggrek, mahoni dll.
B.
Ekosistem Padang Rumput
Seperti
namanya, ekosistem ini didominasi hamparan luas padang rumput yang hijau. Tak
heran bila ekosistem ini disebut grassland atau stepa. Meski secara umum lebih
banyak ditemukan di daerah tropis, namun ada juga yang berada di area
subtropis.
Selain
terkait dengan iklim, ciri lain yang hampir selalu ditemukan pada lokasi padang
rumput adalah topografi tanahnya yang datar atau hanya terdapat bukit-bukit
kecil.
Curah
hujannya pun berbeda dengan hutan hujan tropis, yaitu hanya sekitar 90 sampai
150 cm per tahun. Dari angka tersebut dapat diklasifikasikan bahwa curah
hujannya relatif rendah serta pola persebarannya pun tak terpola.
Meski
tak terlalu lazim, namun ada pula pohon yang dapat hidup di tengah padang
rumput. Salah satu yang paling khas adalah akasia.
Hewan
yang bisa hidup di daerah ini umumnya adalah binatang herbivora seperti rusa,
jerapah, kijang, gajah, zebra. Namun tak menutup kemungkinan ada juga singa dan
harimau yang hidup dan menjadi bagian dari rantai makanan.
C.
Manfaat Keanekaragaman Hayati
Adanya
keanekaragaman hayati yang lestari memainkan peran yang amat penting untuk
keberlangsungan kehidupan di bumi ini. Bahkan, segala manfaat dari keragaman
hayati ini tak hanya dapat dinikmati oleh manusia saja namun juga seluruh
makhluk hidup lain. Apa saja manfaat tersebut?.
1.
Sebagai Sumber Makanan
Seperti
yang telah diketahui bersama, tak akan ada makhluk hidup yang dapat bertahan
tanpa makanan. Dengan adanya keanekaragaman hayati, maka pasokan sumber makanan
yang bervariasi pun akan selalu tersedia. Baik itu dari sumber hewani maupun
nabati.
2.
Sumber Plasma Nutfah
Plasma
nutfah memiliki definisi yang jauh lebih luas dibandingkan sekedar kumpulan
bermacam-macam spesies tanaman. Plasma nutfah adalah keragaman fenotipe dan
genotipe yang terdapat pada setiap jenis tanaman.
Karena
sifatnya yang sangat spesifik pada spesies tertentu, maka penelitian akan
plasma nutfah dapat fokus pada setiap individu tumbuhan, contohnya plasma
nutfah padi, plasma nutfah cabai, plasma nutfah kedelai, dll.
Meskipun
ada perbedaan yang sangat siginfikan antara plasma nutfah dan keanekaragaman
hayati, namun bukan berarti keduanya tak saling berhubungan.
Apabila
kedua hal ini dapat dikelola dengan baik, maka dampaknya adalah makhluk hidup
dapat memiliki variasi sumber pangan yang lebih beragam guna menunjang proses
adaptasi. Jadi, makhluk hidup tak perlu hanya bergantung pada 1 atau 2 jenis
sumber makanan.
Di
samping urusan ketahanan pangan dan kemampuan beradaptasi, sistem pertanian
yang dijalankan manusia juga menjadi lebih optimal.
3.
Sumber Obat
Selain
dimanfaatkan untuk sumber makanan, tanaman dan hewan pun dapat dimanfaatkan
sebagai sumber obat yang alami. Contohnya, tanaman kina yang mengandung
alkaloid dapat dimanfaatkan untuk pengobatan malaria.
Sedangkan
dari sumber hewai, manusia dapat memanfaatkan ular untuk mengobati penyakit kulit.
Suoaya tak mudah terserang penyakit dan daya tahan tubuh meningkat, manusia
bisa mengambil madu dari lebah untuk dikonsumsi sebagai minuman kesehatan.
Seiring
berjalannya ilmu pengetahuan, manusia juga memanfaatkan keanekaragaman hayati
ini untuk dijadikan obat dalam dunia kedokteran hewan. Sehingga binatang yang
sakit pun dapat ditangani oleh manusia dengan bantuan dari alam.
Kesimpulannya,
manusia dan seluruh makhluk hidup sangat bergantung pada kelestarian keragaman
hayati. Karena itu, penting untuk menjaga ekosistem kita agar tetap dalam
kondisi baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar